Popular Posts

Ekskul Seni dan Budaya Sepi Peminat, Disdikbud Samarinda Dorong Kemasan Lebih Modern

Kilasbenua.com, SAMARINDA – Ekstrakurikuler seni dan budaya masih menghadapi tantangan dalam menarik minat pelajar Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan partisipasi siswa dalam kegiatan seni dan budaya hanya 9,44 persen pada tahun ajaran 2023/2024.

Angka tersebut berada jauh di bawah partisipasi Pramuka yang mencapai 64,46 persen dan kegiatan olahraga sebesar 32,66 persen.

Data tersebut tercantum dalam Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang dirilis BPS pada 28 Mei 2025. Publikasi tersebut menggunakan data Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) 2024.

Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Kesuma, menilai rendahnya partisipasi siswa dalam ekskul seni dan budaya dipengaruhi sejumlah faktor.

Menurutnya, salah satu persoalannya adalah dominasi kegiatan ekstrakurikuler tertentu yang memiliki dukungan regulasi dan popularitas lebih kuat di lingkungan sekolah.

Pramuka, misalnya, memiliki posisi yang kuat karena berkaitan dengan kegiatan pendidikan karakter dan kebijakan sekolah. Sementara olahraga memiliki daya tarik tersendiri karena berkaitan dengan aktivitas fisik, kompetisi, prestasi, dan interaksi antarpelajar.

Fasilitas dan Pelatih Masih Menjadi Kendala

Barlin juga menyoroti keterbatasan fasilitas serta tenaga pelatih seni di sejumlah sekolah.

Kegiatan seni membutuhkan sarana yang sesuai. Mulai dari alat musik, ruang latihan, studio tari hingga instruktur yang memiliki kompetensi.

Kondisi tersebut dapat menjadi hambatan ketika sekolah ingin mengembangkan kegiatan seni secara lebih serius.

Tidak semua sekolah memiliki fasilitas maupun anggaran yang memadai untuk menyediakan instruktur profesional. Hal itu termasuk kebutuhan pelatih untuk kegiatan seperti musik, tari maupun drumband.

Di sisi lain, masih terdapat pandangan bahwa kegiatan seni dan budaya tidak memiliki prospek masa depan sebesar bidang akademik, teknologi, atau olahraga kompetitif.

Pandangan tersebut dapat memengaruhi pilihan orang tua maupun siswa ketika menentukan kegiatan ekstrakurikuler.

Keterangan foto: Kegiatan seni dan budaya menjadi salah satu ekstrakurikuler yang perlu diperkuat untuk meningkatkan minat dan kreativitas pelajar. (Foto: Istimewa)

Seni Tradisional Perlu Lebih Dekat dengan Generasi Muda

Faktor lain yang dinilai turut memengaruhi minat adalah perubahan tren di kalangan remaja.

Generasi muda kini semakin dekat dengan budaya populer global, seperti K-pop, J-pop, musik Barat, serta berbagai konten digital.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan seni tradisional yang terkadang masih disampaikan dengan pola yang dianggap kurang dekat dengan keseharian anak muda.

Karena itu, Barlin menilai diperlukan pendekatan baru agar seni dan budaya lokal tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan masa lalu.

Seni tradisional perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan tanpa kehilangan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Biaya Ekstra Juga Jadi Persoalan

Kegiatan seni juga memiliki kebutuhan pembiayaan yang tidak sedikit.

Beberapa kegiatan membutuhkan kostum, alat musik, perlengkapan pertunjukan hingga biaya pementasan.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi beban tambahan bagi siswa maupun sekolah apabila tidak didukung pembiayaan yang memadai.

Karena itu, pemerataan fasilitas dan dukungan anggaran menjadi bagian penting untuk memperluas kesempatan siswa mengenal serta mengembangkan bakat seni dan budaya.

Modernisasi Jadi Salah Satu Solusi

Menurut Barlin, meningkatkan minat siswa terhadap seni dan budaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Salah satunya dengan melakukan modernisasi dalam penyampaian materi seni. Unsur budaya lokal dapat dipadukan dengan pendekatan kontemporer yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

Dengan cara tersebut, seni budaya diharapkan tidak dipandang sebagai kegiatan yang kuno atau sekadar pelengkap di sekolah.

Selain kemasan, pemerataan sarana ekstrakurikuler juga diperlukan agar siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakatnya.

Penguatan fasilitas, ketersediaan pelatih, dukungan sekolah, orang tua, serta ruang pertunjukan menjadi bagian dari ekosistem yang perlu dibangun bersama.

Data BPS menunjukkan persoalan minat tersebut bukan sekadar persepsi. Dari seluruh jenis ekstrakurikuler yang dicatat, seni dan budaya memang berada jauh di bawah Pramuka dan olahraga.

Namun, rendahnya angka partisipasi tersebut juga menjadi peluang untuk memperkuat kembali posisi seni dan budaya di lingkungan pendidikan.

Sebab, sekolah bukan hanya ruang untuk mengejar prestasi akademik. Lingkungan pendidikan juga menjadi tempat penting bagi generasi muda untuk mengenal identitas, kreativitas, dan kebudayaan daerahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *