1
1
Penguatan media sosial dan landing page diarahkan untuk memperluas edukasi sejarah serta mendekatkan museum dengan generasi muda.
Kilasbenua.com, SAMARINDA – Museum Kota Samarinda mulai memperkuat strategi digital untuk memperluas jangkauan informasi sejarah dan budaya kepada masyarakat.
Langkah tersebut diwujudkan melalui workshop manajemen media sosial dan landing page yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Kamis (27/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Workshop Sosial Media Manajemen Museum Kota Samarinda” berlangsung di Museum Kota Samarinda, Jalan Bhayangkara No. 1, Samarinda.
Workshop berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WITA. Kegiatan melibatkan staf museum, mahasiswa dan siswa magang atau PKL, serta mahasiswa dari ITK.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Barlin Kesuma turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, hadir Pamong Budaya Museum Kota Samarinda Ainun Jariah dan Kurator Museum Kota Samarinda Dani Juliansyah.
Tim Pengmas ITK menghadirkan Eline sebagai narasumber utama, Ia didampingi Faisyal dan Anggis Rizky Wiyaringtyas, M.Ds.
Media Sosial Jadi Kanal Edukasi
Barlin Kesuma mengapresiasi langkah ITK yang memberikan penguatan kapasitas digital kepada pengelola Museum Kota Samarinda.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan museum kepada masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran dan diskusi mengenai pengelolaan media sosial yang lebih terarah dan strategis,” ujar Barlin.
Ia berharap penguatan tersebut tidak hanya meningkatkan performa digital museum.
Menurutnya, strategi digital juga harus mampu membangun hubungan lebih dekat antara museum dan masyarakat.
Terutama generasi muda yang semakin banyak memperoleh informasi melalui platform digital.
Barlin menilai museum memiliki peran penting dalam mengenalkan sejarah, budaya, dan memori kolektif Kota Samarinda.
Karena itu, pendekatan komunikasi harus mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan substansi edukasi budaya.
Peserta Praktik Membuat Konten
Workshop tidak hanya berisi pemaparan materi. Peserta juga langsung mengikuti praktik pembuatan konten media sosial.
Pada sesi awal, peserta mendapatkan materi mengenai fungsi media sosial sebagai sarana edukasi, promosi, dan komunikasi publik.
Tim ITK kemudian memperkenalkan konsep identitas visual Museum Kota Samarinda.
Peserta juga diperkenalkan dengan template konten untuk feed dan story Instagram. Template tersebut diarahkan untuk membangun identitas visual yang lebih konsisten.
Dalam sesi praktik, peserta menggunakan aset visual dan template yang telah disiapkan.
Tim Pengmas ITK memberikan pendampingan secara langsung selama proses pembuatan konten.
Landing Page Diperkenalkan
Setelah sesi istirahat, workshop berlanjut pada pengenalan landing page museum.
Peserta mendapatkan pemahaman mengenai fungsi, struktur informasi, dan manfaat landing page sebagai pusat informasi digital.
Landing page dirancang untuk membantu masyarakat mendapatkan berbagai informasi museum melalui satu kanal.
Peserta kemudian mengikuti simulasi sederhana mengenai pengelolaan landing page.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sebelum memasuki penutupan workshop.
Perkuat Daya Tarik Museum
Digitalisasi menjadi salah satu peluang bagi Museum Kota Samarinda untuk memperluas jangkauan edukasi.
Informasi mengenai koleksi, sejarah, kegiatan, hingga program museum dapat dikemas dalam format yang lebih mudah diakses masyarakat.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang interaksi yang lebih aktif dengan generasi muda.
Dengan dukungan teknologi, museum dapat hadir tidak hanya melalui ruang pamer. Informasi mengenai sejarah dan kebudayaan juga dapat menjangkau masyarakat melalui ruang digital.
Kolaborasi ITK dan pengelola Museum Kota Samarinda diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun pengelolaan komunikasi digital yang lebih terarah.
Pada akhirnya, penguatan digital bukan sekadar persoalan tampilan media sosial. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membawa sejarah dan budaya Samarinda lebih dekat dengan masyarakat di tengah perubahan pola komunikasi. (Timah)